‘Lebih Menguntungkan’, Alasan Perajin Gula Banyuwangi Beralih Memproduksi Tuak

Home / Berita / ‘Lebih Menguntungkan’, Alasan Perajin Gula Banyuwangi Beralih Memproduksi Tuak
‘Lebih Menguntungkan’, Alasan Perajin Gula Banyuwangi Beralih Memproduksi Tuak Minuman keras jenis Tuak (FOTO: lensanews.tv)

TIMESBATAM, BANYUWANGI – Kami sengaja menyembunyikan identitas tiga narasumber yang mengungkap ‘sisi gelap’ perajin (disebut; Penderes) gula merah di Banyuwangi, Jawa Timur yang ‘beralih profesi’ memproduksi minuman keras (miras) jenis Tuak.

“Jangan diberitakan. Kita bisa dibenci teman-teman,” jelas narasumber pertama, seorang pengepul gula merah di wilayah Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, Minggu (22/4/2018).

Narasumber pertama mengatakan, dalam dua tahun terakhir, penderes gula di wilayah desa Watukebo, Patoman, dan Gintangan sebagian memilih memproduksi Tuak dibanding memproduksi gula merah.

“Prosesnya cepat, tanpa harus memasak seperti (membuat) gula. Harganya jauh lebih mahal. Satu jerigen 35 liter, jika dibuat gula (merah) hanya dapat 6 sampai 7 Kilogram. Kalikan harga Rp 12 Ribu, cuma dapat Rp 84 Ribu. Itu belum dikurangi biaya produksi, beli kayu bakar. Kerjanya memakan waktu,” jelasnya.

Narasumber mencoba mengalkulasi keuntungan kotor memproduksi Tuak. Dia mengasumsikan seorang penderes mampu menghasilkan 1 jerigen (35 liter) Tuak setiap hari. “Harga dari penderes Rp 105 Ribu untuk 1 jerigen. Tanpa proses memasak, tidak perlu beli kayu bakar. Penderes tinggal mengumpulkan dari setiap pohon dan bisa langsung dijual di hari itu juga,” jelasnya.

Tuak harganya jauh lebih mahal tanpa proses yang sulit, membuat produksi gula merah menurun drastis. Dia mengaku, sebelum ramainya pesanan Tuak, produksi gula merah di desanya cukup tinggi. Bahkan, salah satu produsen kecap nasional pernah mengorder gula merah non sulvit kepada masyarakat sekitar.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com