Mengenal Syarifah, Penghafal Alquran Terbaik IAIN Jember

Home / Berita / Mengenal Syarifah, Penghafal Alquran Terbaik IAIN Jember
Mengenal Syarifah, Penghafal Alquran Terbaik IAIN Jember Ma'isyatusy Syarifah (mengenakan toga) bersama keluarga. Syarifah terpilih menjadi hafidzoh terbaik IAIN Jember. (FOTO: Siti Mukifah/TIMES Indonesia)

TIMESBATAM, JEMBER – Nama lengkap perempuan ini adalah Ma'isyatusy Syarifah. Perempuan kelahiran Lumajang, Jawa Timur yang sebentar lagi berusia 21 tahun pada 25 Mei mendatang tersebut merupakan penghafal Alquran (hafidzoh) terbaik versi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.

Syarifah, yang baru saja resmi menyandang gelar sarjana dari Fakultas Ushuludin, Adab dan Humaniora (FUAH) IAIN Jember pada 28 April 2018 lalu tersebut mengatakan bahwa proses menghafal Alquran dimulainya sejak masih duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA) hingga tamat. Proses mulia tersebut terus dia lanjutkan selama menempuh kuliah di IAIN Jember.

Syarifah mengatakan, dibutuhkan waktu kurang lebih 2,5 tahun mulai proses awal menghafal hingga hafal Alquran sebanyak 30 juz.

Tidak mudah bagi Syarifah untuk menjalani proses menghafal Alquran tersebut. Selain dibutuhkan niat yang kuat dan istikomah, dia juga harus teliti menggunakan waktu yang dia miliki. Mengingat, waktu yang dimilikinya tidak hanya digunakan untuk sibuk menghafal kalam-kalam dari langit, tapi juga dipakai untuk sekolah dan kuliah.

Belum lagi harus membagi waktu antara hafalan dengan mengulang kembali ayat-ayat yang sudah dihafal atau muroja'ah.

"Menghafal Alquran mungkin lebih mudah. Tapi kalau muroja'ah itu yang sulit," tutur Syarifah kepada Times Indonesia, di Jember, Kamis (3/5/2018).

Syarifah mengungkapkan, salah satu syarat penting yang harus dilakukan dalam menghafal Alquran adalah istiqomah atau konsisten selama menjalani. Artinya, menciderai salah satu syarat penting tersebut akan berakibat fatal terhadap hasil hafalannya. 

Syarifah juga mengungkapkan hal yang harus dihindari untuk tetap mempertahankan atau menjaga hafalannya, yakni menjaga tindak tanduk atau perilaku sehari-hari.

"Pantangannya adalah jangan berbuat maksiat," tegasnya singkat.

Sebab menurutnya, perbuatan dosa atau maksiat adalah hal yang bertentangan dengan perintah Allah dan para utusannya kepada umat manusia untuk melakukan amal kebajikan di dunia. Sehingga, hal yang kontras tersebut, yakni maksiat dan amal kebajikan, diyakini ikut menjadi penentu hasil hafalan Alquran yang dilakukan oleh seseorang.

Meski dirasa sulit dilakukan, perempuan berjilbab tersebut mengaku bahwa menjadi hafidzoh merupakan keinginannya sendiri.

"Orang tua tidak pernah memaksa tapi sangat mendukung jika anaknya ingin menghafalkan Alquran," ujar putri dari KH Fawahim Adzra'i Syarif, pengasuh Pondok Pesantren As Syarify di Lumajang itu.

Dia juga menambahkan, penghargaan sebagai hafidzoh terbaik dari IAIN Jember tidak akan membuatnya berhenti untuk terus mempertahankan hafalan Alquran yang sudah susah payah dia peroleh. "Saya akan terus menerus menghafal agar hafalan yang ada tidak hilang," tegas Syarifah yang juga dinobatkan sebagai penulis skripsi terbaik oleh IAIN Jember. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com