Menteri Enggar: Jelang Lebaran, Tak Boleh Ada Harga Bahan Pokok Naik

Home / Ekonomi / Menteri Enggar: Jelang Lebaran, Tak Boleh Ada Harga Bahan Pokok Naik
Menteri Enggar: Jelang Lebaran, Tak Boleh Ada Harga Bahan Pokok Naik Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meninjau pasar tradisional Kuta 2, Badung, Bali, Selasa (8/4/2018). (FOTO: Khadafi/TIMES Indonesia)

TIMESBATAM, BADUNG – Mendekati Hari Raya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dalam kunjungannya ke Bali, meninjau langsung Pasar Tradisional di kawasan Kabupaten Badung, Bali. Ia menilai, bahwa jelang lebaran, harga bahan pokok masih cenderung menurun. Dari Presiden Jokowi melarang ada harga bahan pokok naik.

Dalam kunjungan tersebut, Enggar meninjau pasar tradisional Kuta 2, dan selanjutanya juga akan meninjau Pasar Tradisional di Jimbaran, Badung, Bali, Selasa (8/4/2018).

Enggar menyampaikan, pihaknya meminta tolong bagimana jangan ada framing berita tentang kenaikan harga menjelang Lebaran. Karena, dalam faktanya, tidak ada kenaikan harga bahan pokok. 

"Jadi, saya pertama meminta tolong, jangan ada freming berita tentang kenaikan harga menjelang Lebaran. Karena ternyata tidak ada kenaikan harga, yang ada adalah penurunan harga," ucapnya. 

Menteri-Perdagangan-Enggartiasto-Lukita-2.jpg

Enggar juga memaparkan, bahwa semua harga bahan pokok turun, seperti bawang putih, cabai kemudian juga beras dan lain-lainnya. 

"Beras juga turun Rp 8.950, yang dari target kita Rp 9.450 Kemudian premium (beras) dari Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 12.800 menjadi Rp 12 ribu. Kemudian, daging ayam turun dan bahkan saya khusus daging ayam dan telor itu kita bikin acuan harga bawah dan atas, dan itu dibawah harga acuhan atas. Jadi kita tidak mau peternak dan pedagang itu bangkrut, dan kini suplainya berlebihan," jelasnya. 

Kemudian, untuk harga gula juga turun dari harga Rp 12.500 menjadi Rp 11.500. Kemudian, juga harga minyak goreng kemasan sederhana juga stabil harga mencapai Rp 11 ribu. Untuk minyak goreng curah mencapai Rp 10 ribu. Jadi secara keseluruhan stabil dan cenderung turun.

 

Terkait antisipasi kenaikan harga, Enggar menyatakan antisipasinya adalah dengan mendorong suplainya. Selain itu, yang menjadi perhatian serius tentang bahan pokok adalah beras.

"Kita berikan perhatian serius pada beras, seluruh pedagang beras di pasar tradisional wajib menjual beras medium," tegasnya. 

Selain itu, Enggar juga mengungkapkan bahwa pemicu kenaikan harga itu bisa dipicu oleh freming pemberitaan media tentang kenaikan harga.

Karena, biasanya masyarakat akan panik sehingga khawatir dan pada hari esoknya harga lebih tinggi dan akan membeli lebih banyak. Kemudian, juga bisa dipicu dengan tiadanya suplai dan penimbunan bahan pokok. 

"Untuk penimbunan sudah tidak bisa berjalan lagi, karena kita keras sekali dengan Satgas Pangan. Kalau ada yang berani menimbun, kita akan proses hukum dan kita tidak aka mentolerir untuk itu," tegasnya. 

Enggar juga cukup puas dengan harga bahan pokok di wilayah Badung, Bali. Karena harga di pasaran tradisional dibawah HET.

Selain itu, Enggar juga meminta kepada Kepala Dinas Perdagangan Provisi Bali, untuk terus memantau tiap harinya secara terus-menerus dengan harga bahan pokok di pasar. 

Enggar juga mengungkapkan, untuk harga di daerah lain di Indonesia juga cenderung turun. Karena hampir 32 Provinsi sudah dikunjungi langsung oleh para Ekselon 1 Kementrian Perdagangan.

"Jika ada satu atau dua diatas HET langsung kita cegah. Jadi semua rata, dan itu bukan hanya sesaat menjelang Lebaran saja. Tetapi ini, akan terus dan di pantau oleh BPS, dan terbukti dalam bulan ini kita deflasi dan saya harap dalam bulan depan, kita juga deflasi. Karena Presiden Jokowi memerintahkan harga bahan pokok harus turun tidak boleh ada kenaikan," tutupnya. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com