Opini

Paham Radikal Terorisme, Distorsi Nilai-nilai Agama dan Tradisi 'Guyon' di Pesantren

Home / Opini / Paham Radikal Terorisme, Distorsi Nilai-nilai Agama dan Tradisi 'Guyon' di Pesantren
Paham Radikal Terorisme, Distorsi Nilai-nilai Agama dan Tradisi 'Guyon' di Pesantren Muhammad Faishol, M.Pd, Dosen dan Penulis Buku Kenapa Harus NKRI? (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESBATAM, JAKARTAPAHAM radikal terorisme telah mendistorsi nilai-nilai agama yang benar dan di interpretasi sesuai keinginannya. Misalnya, 'ngebom' dianggap jihad, padahal hari ini, jihad yang paling tepat adalah melakukan perbaikan di segala aspek sosial, budaya, politik, dan sebagainya.

Pada pekan kedua di Mei 2018 hingga hari ini masyarakat seakan-akan sedang disuguhi ‘film laga’ oleh prilaku ‘biadab’ teroris. Berawal peristiwa di mako Brimob yang mengakibatkan enam personel korps baju cokelat itu gugur dalam serangkaian peristiwa yang terjadi sejak tanggal 7 hingga 10 Mei 2018. Pemicu awal adalah kerusuhan dan penyanderaan yang terjadi di blok C, rumah tahanan Markas Korps Brigade Mobil Polri, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat pada Selasa (7/5) malam.

Sebanyak lima anggota Polri gugur setelah mendapatkan perlakuan tidak manusiawi oleh sejumlah napi dan tahanan kasus terorisme. Kelima anggota Polri yang tewas itu adalah Inspektur Satu Yudi Rospuji Siswanto, Brigadir Fandy Setyo Nugroho, Brigadir Satu Syukron Fadhli, Brigadir Satu Wahyu Catur Pamungkas, Ajun Inspektur Dua Denny Setiadi.

Serangan terhadap personel Polri kemudian berlanjut pada Kamis (10/5) malam atau setelah drama di rumah tahanan Mako Brimob berakhir dan mayoritas narapidana kasus terorisme dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan. Yang menjadi korban selanjutnya adalah Brigadir Kepala Marhum Prencje karena ditusuk orang tak dikenal di sekitar Mako Brimob.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com